Belanda vs Portugal: Revolusi Van Basten

Juni 25, 2006 at 2:23 pm 2 komentar

Den Haag – Een totale oorlog, ini duel puputan. Menang atau pulang! Van Basten kemungkinan akan melansir sebuah revolusi, sebuah taktik varian baru untuk meremukkan anak cucu Vasco da Gama itu.

Hingga kemarin malam, Van Basten bungkam seribu bahasa mengenai formasi bertempur timnya untuk menghadapi Portugal di Neurenberg, dinihari nanti, 26/6/2006. Meskipun dicecar pers Belanda, Van Basten tak bergeming, "Kalian tak perlu tahu semua!"

Tapi menghadapi karakteristik dan material tempur yang dimiliki Portugal, Van Basten kemungkinan besar tidak akan menurunkan tim sebelumnya. Bakal terjadi sebuah revolusi. Soalnya dari tiga pertarungan sebelumnya, petempur sekaliber Van Nistelrooy ternyata mandul, performanya kurang memuaskan. Dari 3 pertempuran, dia hanya menyetor 1 gol rampasan. Ini terlalu sedikit.

Menghadapi Portugal, kemandulan seperti ini sangat berbahaya. Jika sampai dipaksa bermain remis dan harus adu penalti, Belanda akan menjadi the sitting duck, tak berdaya digempur barisan jago tembak Portugal. Apalagi per tradisi, Belanda sering gagal menentukan kemenangan dari titik sebelas meter. Seperti ada kutukan di titik putih itu.

Opsinya hanya ada satu: kemenangan harus direbut di lapangan. Persoalannya, Portugal memiliki karakteristik bermain mirip copy-paste sepakbola menyerang Belanda. Trio lini tengah mereka, Maniche-Deco-Costinha tangguh seperti mesin diesel. Lini belakangnya beken sebagai algojo berdarah dingin dan sangat kompak. Sementara di depan ada Cristiano Ronaldo, Pauleta dan Figo, yang amat mematikan terutama dalam serangan balik.

Catatan statistik pun cukup menyiratkan. Dari 9 kali pertempuran, Portugal tercatat 5 kali berjaya, 3 kali remis dan hanya sekali kalah dari Belanda. Meskipun hukum sepakbola mirip dunia bursa, catatan di masa lalu bukan garansi di masa depan, namun itu menjadi sebuah sinyal gawat untuk dicari jawab.

Lalu, jika Van Nistelrooy dipinggirkan, siapa yang bisa menjadi alternatif? Seharusnya Klaas Jan Huntelaar, bomber belia Ajax yang mengantarkan Belanda juara Piala Eropa 2006 U-21, awal Juni lalu. Tapi, Van Basten ketika itu amat yakin pada ketajaman Van Nistelrooy. Kini setelah terbukti sebaliknya, maka harapan hanya tinggal pada eksekutor Feyenoord, Dirk Kuyt.

Kuyt adalah tipe pemain 'babi buta' mirip dalam makna sebenarnya. Orang pesisir di Pekalongan mungkin menyebutnya tipe banteng ketaton (banteng terluka). Ia rajin menjelajah. Menyerang tak kenal lelah, bertahan pun tak tahu bosan. Kontrol bolanya lebih lengket dibandingkan Van Nistelrooy. Bersama Robben dan Van Persie, lini depan Belanda ini bakal bakal menguras tenaga bek Portugal, yang rentang usianya cukup tua: 28-36 tahun. Dalam posisi menekan dengan tempo tinggi, trio depan Belanda ini bisa sekejam singa lapar tiga bulan.

Untuk lini belakang Belanda sudah tidak ada kekhawatiran. Ketika lini depan dan tengahnya bobol saat menghadapi Pantai Gading dan Argentina, lini belakang Oranje ini terbukti lolos uji. Polesan taktik grendel Van Basten, hasil pengalamannya di Italia, mampu memblok berbagai varian serangan, setangguh Dam membendung terjangan air Laut Utara.

Tinggal lini tengah yang cukup menyisakan gundah. Siapa yang bisa meredam invasi Maniche-Deco-Costinha? Van Bommel, kawan Deco di Barcelona? Nampaknya tidak. Van Bommel terlalu kaku dan keteteran menghadapi tipe lawan yang liat dan gesit seperti Deco.

Tipikal yang kira-kira pas untuk meladeni Maniche-Deco-Costinha adalah Sneijder-Van der Vaart-Cocu. Posisi Sneijder setengah defender, menjadi palang pertama sebelum lawan mencapai lini pertahanan, sekaligus skakelar untuk menyerang balik dengan passing-nya yang akurat. Cocu menjadi kontroler dan kondensator serangan. Sementara Van der Vaart adalah master di ruang sempit dan ketat. Sayangnya, kondisi fisiknya belum 100 persen menyetarai performa rutinnya di Hamburger SV.

Di lini belakang, bek-bek murni kemungkinan juga akan dipinggirkan. Jika ini dilakukan, berarti Van Basten mengikuti jejak Johan Cruijff, sang guru sekaligus penegak mazhab totaal voetbal. Pada era keemasan Barcelona, Cruijff sebagai pelatih pernah menebarkan taktik bermain dengan tanpa seorang pun bek atau peremuk serangan.

Link

Entry filed under: Netherlands, Portugal, Soccer, World Cup. Tags: .

Italia vs Australia: Balas Dendam? Inggris vs Ekuador: Sven Bingung atau Tegas?

2 Komentar Add your own

  • 1. hara  |  Juni 26, 2006 pukul 2:31 am

    sampai saat ini menurut saya maju ke babak final german vs brazil
    dengan score 2-1

    Balas
  • 2. spongebob squarepantz  |  Agustus 11, 2006 pukul 3:48 am

    au ah glap

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

Blog Stats

  • 262,677 hits

%d blogger menyukai ini: